Rabu, 27 Juni 2012

PETRUS (Penembakan Misterius)..

Petrus bisa dikatakan sebagai pembantaian / penghapusan kejahatan, salah satu korbannya adalah dari golongan preman atau bandit... Apa sebenarnya yang terjadi?


Berdasarkan pemberitaan media
massa, sejak awal Januari 1983
Kodam Jaya telah memulai operasi
pemberantasan kejahatan dengan
nama “Operasi Celurit”. Dalam
operasi itu, Kodam Jaya berada
langsung di bawah komando
Pangkopkamtib Sudomo. Menurut
keterangan Soedomo pada Sinar
Harapan, 27 Juli 1983 operasi itu
tidak hanya ditujukan untuk
menindak pelaku kejahatan,
melainkan juga untuk
menginventarisasi nama-nama
pelakunya.

Persoalan Petrus yang semula
dilakukan secara rahasia lambat
laun tersebar di masyarakat dan
bahkan mendapatkan perhatian
dari dunia luar. Sejumlah
organisasi, antara lain Amnesti
Internasional, menyoal
pembunuhan yang sadistis itu.

Yoga Sugama menilai pembunuhan terhadap preman “Merupakan kepentingan yang lebih besar daripada mempersoalkan penjahat yang mati misterius, dan persoalan-persoalan asas yang dipermasalahkan,” (Harian Gala, 25 Juli 1983).

Pemerintah pada awalnya
'enggan' menjelaskan penemuan
mayat-mayat korban petrus.
Bahkan aparat keamanan pun
menepis keterlibatan mereka.
Panglima ABRI saat itu, Jenderal
L.B. Moerdani, misalnya, hanya
menyatakan bahwa pembunuhan
terjadi akibat perkelahian
antargeng.

Pembunuhan yang bertubi-tubi
itu, menurut Benny, bukan
keputusan pemerintah. Memang,
katanya, “Ada yang mati ditembak
petugas, tapi itu akibat mereka
melawan petugas.” Namun
Soeharto justru “mengesahkan”
adanya petrus itu. Ia menyatakan,
penembakan misterius itu sengaja
dilakukan sebagai terapi kejut
untuk meredam kejahatan.

Pada saat penembak misterius
merajalela, para cendekiawan,
politisi, dan pakar hukum angkat
bicara. Intinya, mereka menuding
bahwa hukuman tanpa
pengadilan adalah kesalahan
serius. Meski begitu, menurut
Soeharto, “Dia tidak mengerti
masalah yang sebenarnya.” (Ungkapan yang penuh ?)

Dalam satu paragraf yang terdiri
atas 19 baris, Soeharto
menguraikan argumen bahwa
kekerasan harus dihadapi dengan
kekerasan. Istilah Soeharto:
treatment. Ikuti caranya
berbahasa dan caranya
mengambil kesimpulan: “Tindakan
tegas bagaimana? Ya, harus
dengan kekerasan. Tetapi,
kekerasan itu bukan lantas
dengan tembakan.. dor.. dor..
begitu saja. Bukan! Yang melawan,
mau tidak mau, harus ditembak.
Karena melawan, mereka
ditembak.” Paragraf ini segera
disambung paragraf 5 baris: “Lalu,
ada yang mayatnya ditinggalkan
begitu saja. Itu untuk shock
therapy, terapi goncangan. Ini
supaya orang banyak mengerti
bahwa terhadap perbuatan jahat
masih ada yang bisa bertindak
dan mengatasinya. Tindakan itu
dilakukan supaya bisa menumpas
semua kejahatan yang sudah
melampaui batas perikemanusiaan
itu.”

Soeharto memaparkan lagi: “Maka,
kemudian meredalah kejahatan-
kejahatan yang menjijikkan itu.”
Jadi, menurut pengakuannya,
Soeharto sangat jijik terhadap
kejahatan. Namun, apakah karena
shock therapy yang dipelajarinya
entah dari mana itu kejahatan
memang mereda? Tanyakanlah
kepada sindikat Kapak Merah.
Tentang pendapat Soeharto atas
kaum gali itu sendiri terdapat
uraian menarik: “Mereka tidak
hanya melanggar hukum, tetapi
sudah melebihi batas
perikemanusiaan.” yang
belakangan ini diperinci lagi:
“Orang tua sudah dirampas
pelbagai miliknya, kemudian masih
dibunuh.” Atau juga: “….ada
perempuan yang diambil
kekayaannya dan istri orang lain
itu masih juga diperkosa orang
jahat itu di depan suaminya lagi.
Itu sudah keterlaluan!”

Tak ada angka resmi jumlah
korban petrus itu. Hingga Juli
1983, menurut Benny Moerdani,
tercatat ada 300 korban di seluruh
Indonesia. Jumlah sebenarnya bisa
dipastikan lebih dari itu karena
banyak bandit yang mayatnya
tanpa bekas.

Mulyana W. Kusumah, pakar
kriminologi yang melakukan riset
soal Petrus, menyebutkan bahwa
yang menjadi korban mencapai
angka 2.000 orang.
Menteri Luar Negeri Belanda kala
itu, Hans van den Broek, pada
1984 meminta pemerintah
Indonesia menghormati hak asasi
manusia, bahkan menyebutkan
korban Petrus mencapai 3.000
orang.

Menurut Wikipedia, Tahun 1983 saja tercatat 532 orang tewas, 367 orang di antaranya tewas akibat luka tembakan. Tahun 1984 ada 107 orang tewas, di antaranya 15 orang tewas ditembak. Tahun 1985 tercatat 74 orang tewas, 28 di antaranya tewas ditembak. Sementara, dalam sebuah media massa menyebutkan, korban mencapai 10.000 orang.

Para korban Petrus sendiri saat ditemukan masyarakat dalam kondisi tangan dan lehernya terikat. Kebanyakan korban juga dimasukkan ke dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, laut, hutan dan kebun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

AYO GABUNG KE BLOGGERKU DIJAMIN GAG BAKAL SESAT

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.